PENERAPAN BUKAAN DAN PENGHAWAAN PADA BANGUNAN HEMAT ENERGI PUSAT KEBUDAYAAN SENI DI SUMATERA BARAT

Izzatul Fajri

Abstract


Sumatera Barat terutama kota Padang, pada siang hari suhunya mencapai 30oC dan di malam hari mencapai 22OC. Suhu panas dikarenakan Indonesia berada pada garis khatulistia yang membuat Indonesia memiliki iklim yang tropis. Pusat Kebudayaan Seni Minangkabau yang terletak di pinggir pantai, membuat bangunan merasakan adanya angin laut dan darat. Oleh karena itu, pemanfaatan cahaya dan penghawaan alami perlu dilakukan pada Pusat Kebudayaan Seni Minangkabau untuk menghemat energi pada siang hari. Pemanfaatan dilakukan melalui bukaan yang disesuaikan dengan standar kenyamanan visual. Tulisan ini dimaksudkan untuk menemukan dan memperjelas hubungan desain bangunan dan desain bukaan untuk efisiensi energi pada Pusat Kebudayaan Seni.


Keywords


Energi, Hemat Energi, penghawaan

Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract views : 0| PDF views : 0

References


ASHRAE, “Handbook of Fundamental

Chapter 8” Physiological Principles, Comfort, and Health ASHRAE, USA,1989.

Baker, N.V. (1994), Energy and Environment in Non-Domestic Buildings A Technical Design Guide, Cambridge Architectural Research Ltd. and The Martin Centre for Architectural and Urban Studies, University of Cambridge, UK.

De Dear, R.J., Brager, G., Cooper, D. (1997), Developing an Adaptive Model of Thermal Comfort and Practice, Macquarie Research Ltd.- Macquarie Univ., Australia and Center for Env. Design Research, Univ. of California Berkley, USA.

Humphreys, M.A. (1992), Thermal Comfort Require-ments, Climate and Energy, The Second World

Renewable Energy Congress,

Reading, UK. Yuniarti,

SC (2003), Kajian kuat

penerangan Ruang Kelas

dikaitkan dengan Letak Bukaan

dan Pengaturan Penerangan

Buatan, Thesis Program Magister

Arsitektur, Universitas Trisakti.




DOI: http://dx.doi.org/10.25105/psia.v1i1.5936

Refbacks

  • There are currently no refbacks.