MEMAKNAI DIRI MELALUI KEPEKAAN SENI DAN KHAOS : Sebuah Tinjauan Seni sebagai Manifestasi Satu Perjalanan Jiwa

Dyah Gayatri Puspitasari

Abstract


Abstract
The chaotic of modernity has changed the world into a wilderness of material
culture representation. Life is conveyed by the superficial and shallow
experience, which gives a sensation or even dogmatic that inspire the perception
of reality fastly, including the self-reality. The art sensibility and 'chaos' are the
power of life that creates human self-relation with essence of life. The possibility
of looking beyond and bring ourselves to being beyond. Meaning fulness really
relies on human's aesthetical perspective, which sees the world as non-material
world; the existence of 'Being' that has become the meaning of all material
surface. Art has undoubtedly become the conductor of self-unity. Through the
phenomenology of Husserl and the aesthetic of Deleuze, the contiguity of
selfness with art is interpreted as the chaotic exploration, the unity of subjectobject
exploration on the pre-reflective, pre-theoritical level. Art is a sensation of
chaotic embodiment, and art sensibility is the nature of chaotic power. From
this, the aesthetical selfness is originated, a selfness that could enter the
meditation zone with a sensibility and intellegency up to the level of conscious
reflectivity, which will be able to touch the depth of human's spiritual zone.

 

Abstrak
Hirukpikuk modernitas kian mengubah dunia menjadi belantara
representasi budaya material. Kehidupan terhantar pada pengalaman
yang bersifat permukaan, dangkal, hingga memberi sensasi bahkan
dogmatis yang begitu cepat pengaruhi persepsi akan realitas, termasuk
realitas diri. Kepekaan seni dan 'khaos' merupakan daya hidup pencipta
hubungan diri manusia dengan esensi kehidupan. Memungkinkan
suatu looking beyond dan membawa diri pada being beyond.
Kebermaknaan sedemikian bergantung pada cara pandang estetik
manusia akan dunia sebagai dunia non material, keberadaan suatu
'Ada' (Being), yang menjadi makna dari segala kematerialan yang
mengemuka. Seni menjadi keniscayaan penghantar keterleburan diri ke
dalamnya. Melalui fenomenologi Husserl dan estetika Deleuze,
persentuhan diri dengan seni termaknai sebagai petualangan khaos,petualangan keterleburan Subyek-Obyek pada tingkat pra-reflektif,
pra-teoritis. Seni adalah sensasi pengejawantahan khaos, dan kepekaan
seni perihal menangkap kekuatan khaos. Dengannya terlahir sosok 'diri
yang estetik', diri yang termampukan memasuki wilayah perenungan
dengan suatu kepekaan dan kecerdasan hingga pada tingkat
reflektivitas kesadaran yang mampu menyentuh wilayah spiritual
kedalaman makna manusiawinya.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Lisensi Creative Commons

Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional.